Tentang Pengampunan

Kapal Pelicano adalah kapal yang paling tidak disukai di dunia. Sejak tahun 1986 kapal ini menjadi gelandangan samudera. Tidak ada yang menginginkannya. Sri Lanka tidak mau. Bermuda tidak mau. Republik Dominika tidak mau. Begitu juga Negeri Belanda, Kepulauan Antilen dan Honduras.

Masalahnya bukanlah kapalnya. Meski pun berkarat dan sarat ditempeli teritip, kapal berukuran 466 kaki ini adalah kapal pengangkut yang laik laut.

Masalahnya bukan kepemilikan. para pemilik menjaga agar lisensi kapal itu tetap berlaku dan pajak tetap dibayar.

Masalahnya bukan krunya. Bisa saja mereka merasa tidak disukai, tetapi tidak berarti bahwa mereka tidak efisien.

Kalau begitu masalahnya apa? Apa alasannya sehingga kapal ini selama bertahun-tahun ditolak? Disuruh pergi dari Sri Lanka. Diusir dari Indonesia. Ditolak di Tahiti. Mengapa kapal Pelicano adalah kapal yang paling tidak diinginkan di dunia?

Sederhana saja. Ia penuh dengan sampah dan limbah. Lima belas ribu ton limbah. Kulit jeruk, botol bir, koran, makanan cepat saji yang setengah dimakan. Sampah. Sampah dari musim panas sepanjang tahun 1986 di Philadelphia. ketika itu karyawan kotapraja mogok. Di waktu itu sampah menimbun dan menimbun semakin tinggi. Pada waktu itu Georgia tidak mau menerimanya dan New Jersey menolaknya. Tidak ada yang menginginkan sampah Philadelphia.

Di saat itulah kapal Pelicano masuk dalam kisah ini. Para pemiliknya beranggapan bahwa mereka akan bisa mendapat uang gampang dan cepat dengan mengangkut sampah itu. Sampah itu dibakar dan abunya ditimbun ke dalam perut kapal. Tetapi tidak ada yang menginginkannya. Awalnya, abu sampah itu terlalu banyak. Akhirnya, abu itu menjadi barang lama. Siapa menginginkan sampah yang kemungkinan besar beracun?

Keadaan yang menyedihkan yang dialami kapal Pelicano adalah bukti. Kapal-kapal berisi sampah tidak bisa mendaat banyak kawan. Keadaan menyedihkan yang diderita kapal Pelicano juga merupakan sebuah perumpamaan. Hati yang pebuh berisi sampah juga ngga laku, tidak ada yang mau.

Max Lucado, Kasih yang Patut Diberikan (A love worth giving), Gospel Press 2004

Categories: renungan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: