Pahlawan

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan

Matius 3:4

 Yohanes pembaptis berpenampilan seperti yang ada dalam Matius 3:4, tapi dia adalah pahlawan, orang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan.Pahlawan sejati sulit dikenal. Mereka tidak kelihatan seperti pahlawan. Mungkin saja ia ada di sebelah kalian ketika kalian duduk di kelas, atau mungkin juga mereka adalah tetangga kalian. Mungkin dia adalah guru kalian yang kalian abaikan, tapi mendoakan kalian di rumah. Mungkin dia adalah remaja yang telah menasihati kawannya untuk tidak menggunakan narkoba. Yaah, memang tidak kelihatan seperti pahlawan dalam buku cerita, tapi bahkan ledakan atom pun dimulai dari satu atom, hujan badai didahului setetes air.

Sejarah sudah membuktikannya. John Egglen belum pernah berkotbah. Bukan karena dia tidak mau, tapi memang dia tidak pernah diperlukan untuk berkotbah. Tetapi kemudian suatu pagi hari ia berkotbah. Salju menutupi kota Colchester di Inggris, kota asalnya, sehingga tertimbun lapisan putih. Ketika ia bangun di hari Minggu di bulan Januari 1850, ia berniat untuk tinggal di rumah saja. Siapa mau ke gereja saat cuaca seperti itu?

Tapi ia berpikir kembali, bagaimanapun ia seorang penatua gereja. Kalau penatua saja tidak datang, siapa yang mau datang? Jadi ia memakai sepatu boot dan mantel, dan berjalan sejauh enam mil ke gereja Methodis.

Ternyata bukan hanya dia yang berpikir untuk tinggal di rumah. Hari itu hanya 12 anggota gereja dan 1 orang pengunjung yang datang. Pendeta pun tidak datang karena rumahnya tertimbun salju. Salah satu orang menyarankan untuk pulang saja. Tapi Egglen tidak mau mendengarnya. Mereka sudah datang begitu jauh, harus ada kebaktian. Lagipula ada seorang tamu. Anak berusia 13 tahun.

Maka dibuatnya kebaktian. Kotbahnya berlangsung 10 menit, melantur dan tidak ada tujuan tertentu. Tetapi kemudian, keberanian yang entah datang darimana hinggap pada dirinya dan dia langsung menatap remaja itu dan berkata “Anak muda, pandanglah kepada Yesus, pandanglah, pandanglah!”

 Apakah tantangan itu mempunyai efek? Anak muda yang sudah dewasa itu berkata “Saya memang memandang dan di situ dan di saat itu sebuah awan terangkat dari hatiku, kegelapan bergulir keluar, dan saat itu saya melihat matahari.”

 Nama anak itu? Charles Haddon Spurgeon. Raja pengkotbah Inggris.

 Apakah Egglen tahu apa yang dibuatnya? Tidak

Apakah pada pahlawan tahu bahwa mereka pahlawan? Jarang

 Bagaimana dengan kalian? Hal-hal kecil bisa berarti besar kalau kalian melakukannya dengan segenap hati untuk kemuliaan Tuhan. Bahkan doa yang diucapkan dengan tulus untuk teman kalian yang dalam masalah pun merupakan tindakan seorang pahlawan.

 Jadi, lain kali Anda bercermin, mungkin kalian sedang melihat pahlawan.

Categories: renungan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: