Bunglon

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang

Matius 5: 13

Bunglon itu reptil seperti cicak yang ingin tahu. Ia bisa berubah warna dari hijau, krem, kuning, krem atau cokelat untuk berbaur dengan lingkungannya. Manusia bisa menjadi bunglon, mengubah perilaku dan sikap mereka untuk menyenangkan dan mengakomodasi sesamanya.

Pernah satu kali Paulus dan Petrus berselisih paham. Petrus saat itu sedang makan bersama dengan orang-orang percaya yang bukan Yahudi. Kemudian, datanglah orang-orang Yahudi. Begitu melihat orang-orang Yahudi datang, Petrus dan orang Yahudi lain tiba-tiba saja menjauhkan diri dari orang-orang bukan Yahudi yang sedang makan bersama dengan dia. Petrus takut jika nantinya dia akan dimusuhi oleh orang-orang Yahudi itu.

Pernahkah kita melakukan seperti bunglon dan apa yang dilakukan Petrus?

  • Seperti  bunglon, ketika kita mengorbankan prinsip-prinsip yang kita yakini hanya supaya diterima oleh teman. Kita merokok supaya dikatakan hebat, kita mencoba gaya yang aneh-aneh supaya dikatakan populer
  • Atau, kita seperti Petrus dan rekan-rekannya, kita malu ketika teman-teman kita melihat kita ke gereja, berdoa, membaca Firman Tuhan atau mengikuti prinsip-prinsip Firman Tuhan karena takut dikatakan “sok alim”.

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Ada persamaan antara bunglon dengan garam, yaitu, kedua-duanya dapat menjadi satu dengan lingkungannya.

Namun ada suatu hal penting yang dapat kita pelajari dari garam: Ketika garam dimasukkan ke dalam masakan, ia memang menjadi satu dengan masakannya, namun ia memberi rasa pada masakan itu. Artinya, garam itu bersifat mempengaruhi, bukan dipengaruhi.

Sebagai anak-anak Tuhan yang adalah garam dunia, sudah seharusnya kita memberikan pengaruh yang baik bagi sekeliling kita, dan bukannya terpengaruh hal yang buruk dari sekeliling kita.

Jadi, tentukan pilihanmu sekarang, mau jadi seperti garam, atau bunglon. Keduanya sama-sama dapat menjadi satu dengan sekelilingnya, namun yang satu terpengaruhi, sedangkan yang lain mempengaruhi

Categories: renungan | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: