Pelayanan dan Obsesi

Pernahkah terpikir bahwa beban pelayanan kita suatu saat dapat saja menjadi obsesi kita. Obsesi untuk melakukan panggilan pelayanan..

Lalu, apakah itu salah?

Saat pertama kali menjalani pelayanan ini saya pernah berpikir, apakah saya sedang menarik jubah Tuhan dan berkata, “Berikan anak-anak itu padaku”. Saya seperti memaksa Tuhan untuk memberkati pelayanan saya… Seolah-olah Tuhan berada di pihak oposisi..

Sampai suatu sat Tuhan berkata, “memangnya siapa yang memanggilmu?”, “memangnya anak-anak itu milik siapa?, “memangnya siapa yang tau apa yang terbaik untuk mereka?”

Pelayanan adalah untuk kepentingan Tuhan, dan mereka yang kita layani. Sifat manusia kita terkadang mencari ‘keuntungan’ di balik pelayanan kita. Baik itu berupa materi, nama baik atau bahkan sekedar kepuasan pribadi.

Paskah 2007 merupakan saat dimana saya menyerahkan sepenuhnya sama Tuhan. Saat itu semua tenaga dan uang saya sudah terkuras… Mencari angkot, pergi ke sekolah-sekolah, mengatur peminjaman tempat, acara…dan saya hanya fokus pada…jumlah anak yang hadir…obsesi akan keberhasilan pelayanan yang dipandang sebelah mata..

Hujan deras melanda kota Bandung tepat ketika anak-anak naik ke angkot yang kami sewa…dari setiap titik saya mendapat telepon “hujan deras, hampir banjir”. Saat itu saya terduduk dan menangis “Tuhan, beginikah yang Kau maksud menyerahkan anak-anak itu ke tanganku? Apakah ini rencana-Mu yang hebat? Kau mau mempermalukan aku Tuhan?”

Saat itu saya merasa Tuhan berbisik “Percayakah kau pada-Ku? percayakah kau kalau Aku yang mengatur semuanya?”

Saya menghapus air mata saya dan berkata “Baiklah, saya percaya, terserah Tuhan saja”

Tak lama setelah itu anak2 berdatangan, dengan baju basah kehujanan…Dan saat itu perkara dahsyat dikerjakan Tuhan dan saya belajar…Bahkan saat panggilan itu kita dengar…jangan pernah mencampurkannya dengan obsesi pribadi… itu

Selain itu saya belajar…Terkadang Tuhan akan menggunakan caranya…”menghancurkan” kita, ketika kita merasa “ini semua karena aku!! Aku bisa melakukan segalanya sendiri”, tujuannya? agar semuanya kembali kepada Tuhan… agar semua orang lihat…Tuhan yang berperan

Pelayanan itu berpusat pada Tuhan, dan orang yang kita layani…bukan diri kita sendiri…

 

Kak Greissia

Categories: Article, renungan | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: