Ketika semua untuk Tuhan

From Yoanna Greissia’s Desk

 

Seperti biasa. saat-saat menjelang ibadah bersama Pelajar Sekolah Dasar Negeri adalah saat-saat yang membuat saya gelisah tak karuan. Bagi saya ini semacam olahraga iman. Ketika saya harus menempatkan iman dan usaha saya sesuai porsinya. Di satu pihak saya harus berusaha mati-matian (tidak mungkin saya diam saja berharap anak-anak SDN itu tahu dengan sendirinya kan?), di pihak lain saya harus memiliki cukup iman bahwa surat-surat undangan akan tiba di anak-anak dengan tepat waktu, dana akan tercukupi, dan semuanya beres (keamanan, ketertiban acara, dll).

Hari ini cukup merupakan hari yang mencengangkan bagi saya. Dalam saat teduh saya tadi pagi saya berusaha memeriksa hati saya dan berbisik pada Tuhan bahwa betapa saya mengasihi-Nya dan ingin mempersembahkan semua yang saya lakukan untuk-Nya. Bahwa apa yang kami kerjakan, dana yang kami kumpulkan, keringat yang kami keluarkan tidak cukup banyak untuk membalas apa yang sudah Dia lakukan pada kami.  Seperti biasa sekali lagi saya menyerah pada Tuhan, “Ini acara-Mu, kami hanya dapat melakukan bagian kami, yang sangat kecil, untuk acara ini”.

Tidak menunggu lama ketika saya mendapat beberapa kabar mengejutkan sekaligus. Donasi dari seorang sahabat (yang langsung menutup kebutuhan dana untuk angkot kami), surat balasan bahwa kami diijinkan berbagi visi di salah satu gereja untuk minggu ini, pemesanan angkot sudah beres, bukankah ini semacam “pelukan hangat saat udara dingin”?

Kami memang masih membutuhkan dana untuk souvenir anak-anak dan beberapa kebutuhan lainnya. Tapi ketika ‘restu Tuhan’ sudah kami dapatkan, dan ketika Dia sudah mulai bekerja, bukankah Dia akan menyelesaikannya dengan gemilang? Kami akan mulai gerilya kami besok. Kami berdoa agar Tuhan menyertai kami seperti Dia menyertai Gideon saat melawan bangsa Midian.

Ya…beberapa hari ini bahan diskusi kami di Menara Ministries adalah mengenai Gideon. Gideon diutus Tuhan memimpin bangsa Israel untuk melawan bangsa MIdian yang selama ini berkemah di sekeliling bangsa Israel, memusnahkan hasil panen, dan meninggalkan bangsa Israel dalam keadaan melarat dan kelaparan. Memang, hal ini terjadi karena bangsa Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Namun ketika mereka bertobat, Tuhan langsung menyusun rencana.

Ada dua hal yang rupanya penting bagi Tuhan ketika Dia memimpin bangsanya untuk berperang. Pertama, masalah IMAN pada Tuhan. Ketika bangsa Israel tahu bahwa Tuhan mengutus Gideon, 32.000 orang menyatakan kesediaannya untuk berperang bersama Gideon. Namun Tuhan tahu bahwa dari 32.000 orang itu, tidak semuanya benar-benar percaya bahwa Tuhan sanggup. Ia menyuruh Gideon memulangkan mereka yang masih takut. Lebih dari setengahnya, 22.000 orang pulang karena ternyata tidak memiliki IMAN yang cukup. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun, tidak boleh ada ketakutan sedikitpun ketika kita bekerja bersama Tuhan.

Tuhan masih melihat bahwa ada yang kurang dari 10.000 orang yang masih bersama dengan Gideon. Maka ia menyuruh Gideon untuk meminta mereka semua minum. Ada 300 orang minum dengan etika yang benar dan ada 1700 orang minum, menurut Alkitab, seperti anjing. Hal kedua yang penting bagi Tuhan adalah SIKAP dan ETIKA.  Tiga ratus orang itu minum dengan sabar, tidak serakah, tidak terburu-buru, tahu kodratnya sebagai manusia, sementara 1700 lainnya minum dengan rakus seperti anjing.

Apa yang terjadi setelah itu? Tiga ratus orang itu tidak berperang, Tuhan yang berperang. Tiga ratus orang yang beriman dan berkarakter itu tetap melakukan bagiannya: meniup sangkakala dan memecahkan buyung. Dapatkah Anda bayangkan jika mereka yang kurang iman disuruh meniup sangkakala? Mereka akan menjawab, “apakah ini lelucon?”. Dapatkah Anda membayangkan jika mereka yang rakus dan tidak sabaran disuruh memecahkan buyung? Mungkin terjadi atraksi lempar-lemparan buyung yang terbesar yang pernah terjadi.

Saya akan memulainya dengan berdoa dan memeriksa hati saya, “Apakah iman saya cukup? Apakah saya mempercayai Tuhan sepenuhnya?”. Saya berdoa dan memeriksa diri saya, “Apakah motivasi saya benar? Apakah saya memiliki ‘etika berperang’ ala Tuhan?”. Saya akan melanjutkannya dengan mempersilahkan Tuhan yang berperang.

Saudara, tolong ingatlah kami dalam doa-doa Saudara. Ada 1000 anak yang jika kita menangani mereka dengan benar, dapat menjadi terang-terang kecil di lingkungan mereka, dan siapa yang tahu jadi apa mereka kelak? Perlu ada yang campur tangan agar mereka jadi seperti yang Tuhan inginkan. Kami benar-benar membutuhkan doa dan keterlibatan Saudara. Tolong ingat kami dalam doa-doa Saudara!

 

Categories: From Greissia's Desk | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: